|
Al Barra Family
|
Written by Lia Barra
|
|
Thursday, 16 April 2009 23:35 |
Udara hangat, orang mulai bermain-main diluar, begitu pun kami dan tetangga. Tetangga yang terhalang satu apartemen, orang India berputra satu, kemarin itu bertanya "I still wonder, how can you handle 3 boys?". Beliau ini bukan penanya pertama, seringkali saya mendapatkan pertanyaan senada "Teh gimana sih itu punya anak 3, saya aja punya satu rumah kayak kapal pecah" atau "wah anaknya tiga gak kebayang, beres2nya, belanjanya mana disini 4 musim baju kudu ganti2" dsb.
Gini rasanya punya anak 3
Jam 3 sore, Raka dan Hanif pulang sekolah, ayahnya masih di kampus.
Hanif : Ibuu, can you make bubur ayam for me please... Ibu : Ok, but need time... Hanif : Ok, I'll wait
Tidak lama kemudian, Raka : Ibu, my bike is broken, can you fix it? Ibu : Ok, in a minute
Si ibu ke dapur masak bubur, sembari itu membenarkan sepeda yg rantainya lepas...
Tiba-tiba si bungsu menghampiri, "nenen bobo" katanya
Ibunya pun teriak "Kaa, can you play with ade while Ibu fix your bike?" ok! jawabnya, tapi ternyata si ade gak mau, tetep mau ibunya jadi sambil menyusui dong membenarkan rantai yg entah kenapa kok susah banget saat itu.
Masih utak atik sambil sesekali ke dapur memeriksa sang bubur, Hanif menghampiri "Ibu, I want to play, but I don't want to play by myself" katanya. "Ask Aka to play with you!" kata si ibu, "I did, but he doesn't want to". Si ibu cuci tangan, ngecilin kompor, pangku Ilman manggil kedua anaknya, disidang!
Ibu : Raka, you want Ibu to fix your bike, right?, Hanif, you want Ibu to make bubur ayam. Ibu just have 2 hands, and ade need Ibu. What do you think about that? (keras lo nadanya hihi).
Raka : Ok, I'll play with Ai... Hanif : Ok, but is that bubur ayam ready ? (ngebul si ibu).
Itu kejadian sehari, lain hari lain kisah namun kisah yang berwarna.
Satu tempat beres, pindah ke tempat lain mulai dibereskan ketika usai, kembali ke tempat yang beres tadi, sudah kembali hancur lebur, mhh itu sudah biasa.
Atau dalam saat yg bersamaan, ada dering telepon, pintu diketuk, kompor sedang menyala dan si bayi nangis...mhh mana dulu yang diselesaikan (rasanya dulu pernah mendapatkan pertanyaan2 begini, katanya untuk ngetest something, apa ya lupa).
Malam hari sholat maghrib bersama, si bungsu ikutan nungging2nya, lalu duduk ngaji qur'an giliran. Sesaat sebelum jam tidur, bermain2 di kasur. Anak-anak bercandaam tertawa2, naik-naik di badan si ayah saling melempar teka teki joke, lalu waktunya tidur tiba, mengantarkan mereka ke alam mimpi, memberi dan mendapat pelukan serta kecupan. Mereka pun tidur tenang dengan wajah lelah yang bahagia. Tenang dan damai itu tidak hanya didapatkan dari satu tapi tiga...berlipat lipat rasanya. Kisah-kisah lain pun tidak berarti karena telah berganti bahagia...alhamdulillah.
Begitu kalau punya anak laki-laki 3 itu... , impaslah...3 kali lipet lieurnya, 3 kali lipet juga bahagianya, eh bahkan mungkin bahagianya malah tidak terhitung deng. Kalau cape ada selesainya, ada istirahatnya kalau bahagia kan berkesinambungan hehe. Read 0 Comments... >> |
|
|
Written by Lia Barra
|
|
Thursday, 16 April 2009 23:33 |
Udara mulai menghangat, rumput menghijau dan bunga liar pun mengintip malu. Saatnya berganti musim dan berganti suasana. Saatnya menyemai benih, menyiraminya, untuk dituai kelak. Saatnya mengiringi mentari melangkah panjang, saatnya membangun semangat yang sempat layu diguyur kelam.
Ah...sedang senang karena urusan berganti lay out rumah beres, redup winter sudah berganti ceria spring, baju winter terlipat rapi akhirnya, tinggal urusan bermain dengan tanaman. Hendak memberi pengertian pada anak2 bahwa segala sesuatu itu perlu proses yang panjang layaknya tanaman. Kita tanam, kita pupuk, sirami, perlakukan dengan baik, tunggu dan nanti hasilnya kita yang menuai. Semoga lancar...Bismillah.
Pun sedang punya cita, punya jalan, punya waktu, tinggal perlu teman ! Bismillah.... Read 0 Comments... >> |
|
Written by Lia
|
|
Thursday, 16 April 2009 23:29 |
Beberapa hari terakhir Hanif enggan pergi sekolah, ketika waktunya tiba untuk siap-siap berangkat, banyak alasan yang diungkapkan, mau makan ini dululah, mau ambil mainan dsb. Puncaknya tadi, sudah sampai bus stop eh bilang nggak mau sekolah. Alasannya "because we have to watch TV and the TV is to high, its hurt my neck " katanya, Ibunya berkata "maybe you can ask the teacher to do somethingelse" Hanif menjawab lagi "I did, but Mrs. Dicks ask me to stay there", "do you want me to talk to Mrs. Dicks about that" tanya ibunya, "no' jawab Hanif, "thats ok, I'll go to school" lanjutnya.
Pulang sekolah kembali ditanya "How's your feeling?" Ok, jawabnya. Sore-sore ngobrol lagi lalu keluarlah kalimat berikut "because we did some boring stuff I already knew..." :D
Boring stuff itu, mewarnai huruf, mewarnai gambar, main maching game dsb. Sebetulnya ibunya sudah pernah berbincang dengan gurunya berkaitan dengan hal ini, mereka bilang memang Hanif kemampuannya diatas rata2 teman-teman sekelasnya, dan akan berusaha mencarikan aktivitas yang akan membuat Hanif excited. Tapi ternyata tidak, dapat dimaklumi sih karena waktu dan tenaga gurunya juga terbatas. Ah mungkin hanya kebosanan sesaat, karena diakui Hanif mirip ibunya, moody :D. Toh banyak aktivitas lainnya yang menyenangkan juga disekolah itu.
Sementara itu sang Raka sedang menyukai angka-angka. Bertanya-tanya tentang negatif number lalu mengajarkan konsep negatif itu pada teman2nya, pulang sekolah bawa pertanyaan tentang square root (ternyata ini toh bahasa inggrisnya akar pangkat :D) yang tentu saja belum dipelajari dikelas 1. Dan hari ini dia bertanya berapa salary yang didapat ayahnya setelah dikampus seharian bahkan kadang sampe jam 9 malam baru pulang karena ngawas ujian. Kemudian diitung berapa yang keluar untuk bayar sewa apartemen dsb, hingga ada sisa berapa, lalu bertanya "so how much money can we give to Juvenile Diabetes Research Foundation?" oh rupanya ada pesan sponsor, dimintakan sumbangan melalui sekolahnya :D.
Sedangkan seorang Ilman saat ini sedang bermusuhan dengan pakaian. Setelah mandi atau masanya ganti diaper, langsung bilang no...no...sambil geleng-geleng kepala,kalau dipaksa dipakaikan diaper, celana dan bajunya maka akan keluar tantrumnya, nangis hebat beberapa menit. Setelah itu biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa. Kalau tidak dipaksa tidak akan mau memakai baju dkk itu, seru bukan?.
Dan sorepun tiba, sang Ibu harus mulai membersihkan karpet dari serpihan kotoran yang tercecer, tiba-tiba suaminya menghampiri sambil mengusap punggung sang istri penuh simpati dan bertanya "cape bu?", sang istri pun menjawab "ya cape tapi kan tidak punya bos" .
Haripun berakhir dalam senyap...
Read 1 Comments... >> |
|
Last Updated on Thursday, 16 April 2009 23:31 |
|
Written by Lia
|
|
Thursday, 16 April 2009 23:25 |
|
Empat pasang mata indah itu tertutup nyaman, tenang melaju kealam mimpi. Kutatap satu persatu, kuusap pelan hendak menjalarkan damai kedalam jiwa. Inilah impianku, impian yang kubangun dan kusimpan apik dalam angan dulu. Kini kunikmati bahagia.
Empat badan itu menggeliat merubah roman. Kurapihkan selimut hangatkan mereka. Disinilah duniaku, dunia yang kudamba sejak semula.
Apalagi yang kuminta?. Dunia mereka? aku ada. Senyum mereka? aku serta.
Namun ada selisir menyelinap, masih ada yang harus kucari. Masih ada warna yang kubutuhkan untuk melengkapi pelangiku, sesuatu yang bisa membuatku lebih hidup, lebih berarti bukan hanya untuk empat jiwa itu, tapi juga untuk yang lain bahkan diri sebagai aku. Melihat sekeliling, memasak? sepertinya tidak. Menjahit? hanya cukup untuk diri sendiri. Crafting atau knitting? tangan tidak cukup terampil menari disana. Berbisnis? apalagi ini, tidak pernah bisa. Bagaimana dengan menulis? entahlah karena ternyata tidak mudah mengungkapkan ide ke dalam bahasa tulisan yang nyaman dibaca dan dimengerti orang lain.
Masa kini bagiku masih meraba, semoga segera jumpa, entah dimana dan apa. Read 1 Comments... >> |
|
Written by Lia Barra
|
|
Sunday, 28 December 2008 19:10 |
|
Benarkah tiba di 1430 H karena 1414 H baru saja ditulis kemarin rasanya. Benarkah 16 tahun berlalu sudah, ingat setiap lembar buku itu berjejer dua angka 14. Benarkah kini adalah kini, beribu hari berlalu setelah masa itu padahal impian yang terajut masih belumlah terurai panjang. Dimana jiwa berada Dimanakah gegas yang kucipta Saatnya kembali semula, dalam sujud panjang harapan dan do'a Hari ini jalan berawal dititik 1430 H Mari.... *Lexington, 1 Muharram 1430 H Read 4 Comments... >> |
|
|
|
|
|
|
Page 1 of 4 |
|